Sabtu, 28 Maret 2015

MASYRAKAT ADAT PAPUA

Majalah Selangkah.com "Deklarasi perserikatan bangsa‐bangsa tentang hak‐hak masyarakat adat pasal 2 dan 3 yang menyatakan:
Pasal 2
Masyarakat adat dan warga-warganya bebas dan sederajat dengan semua kelompok-kelompok masyarakat dan warga-warga lainnya, dan mempunyai hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam menjalankan hak-hak mereka,
khususnya yang didasarkan atas asal-usul atau identitas mereka.

Pasal 3
Masayarakat adat mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri. Berdasarkan hak tersebut, mereka secara bebas menentukan status politik mereka dan secara bebas mengembangkan kemajuan ekonomi, sosial dan budaya mereka. ""
***

maka dari itu, Perjuangan Papua barat bukanlah perjuangan pengakuan sendiri. tetapi perjuangan rakyat Papua barat juga mengkikuti koridor hukum internasional yang mampu meyakinkan kepada PBB dan negara-negara lain tentang kebenaran perjuangan bangsa papua barat.
teruslah berjuang teman-teman kita berada pada hukum dan jalur yang jelas dan tidak bertentangan.

Penulis:Anak Adat Papua



Catatan diskusi___kab.dogiyai


Majalah Selangkah.com Saya sebagai salah satu mahasiswa asal Dogiyai, sangat menyangkan pembakaran kantor bupati kabupaten Dogiyai yang telah dilakukan oleh sekelompok orang.

Ini merupakan masalah yang menjadi perhatian untuk kita semua, karena jika kita (PEMDA, DPRD, Kaum Intelektual dan Mahasiswa) membiarkan hal ini terjadi trus, maka beberapa saat kemudian nanti akan terjadi hal-hal yang kita tidak inginkan diantara kita sendiri nanti, sehingga saya berharab untuk kita semua yang sekarang buat adalah berpikir untuk menyatukan semua perbedaaan pendapat dan kesalahpahaman yang terjadi pada semua orang. Kini bukan waktunya saling menyalahkan antara satu kepada yang lain tetapi saatnya berpikir memajukan daerah kita dengan cara: Berpikir bersama, kerja.

Bagi mereka yang merasa diri benar (menang), salah berharab untuk buat yang terbaik (karena belum tentu dilain waktu akan menang).

Bagi mereka yang merasa diri kalah, saya pribadi sangat berharab supaya tidak membuat hal-al yang tidak benar (karena orang sampai kapanpun dan dimanapun akan men-cap kita dengan hal yang tidak benar, bahkan sampai harga diri kita menjadi murah, INGAT…HARGA DIRI SANGAT MAHAL HARGANYA).

Kepada PEMDA Dogiyai bersama DPRD Kab. Dogiyaio bahwa, sesegera mungkin pindahkan ibukota Dogiyai ke Kigamani sesuai UU Pembentukan Kab. Dogiyai.
Kita semua orang DOGIYAI
Berpikir untuk “Menjadikan Dogiyai Dou Ena”
Trimakasih.


Saya tunggu Info selanjutnya. 


Penulis:Mapiha Yoka


BAKIT DASAR PENJAJAH KAMU


“Kamu jangan pele-pele saya, saya mau masuk. Kamu kira saya ini pendatangkah? Saya ini tuan tanah. Ini saya punya tanah, saya harus masuk ke dalam. Kamu orang Indonesia itu jangan bikin tahu-tahu di sini. Kamu orang Indonesia itu yang teroris, perampok, pelacur semua. Kamu orang Indonesia bikin apa datang ke sini? Kamu pulang ke kamu punya Indonesia sana. Kami mau merdeka. Sekarang kamu gaya-gaya, besok kami merdeka kami usir kamu semua pulang ke Indonesia sana. Goblok kamu,” teriak seorang ibu di depan pintu masuk ruang keberangkatan bandara udara Dominic Edward Osok (DEO), Sorong. 

Dari dialeknya jelas bahwa ibu itu adalah “bakit” (sebutan orang Maybrat untuk perempuan). Nampaknya bakit itu memarahi dua orang orang non-asli Papua petugas bandar udara yang menghalanginya untuk masuk ke ruang keberangkatan, sebab bakit hanyalah pengantar yang hendak membantu anaknya melaporkan tiket untuk berangkat ke Jayapura. Akhirnya dengan pemberontakan, bakit itu diperbolehkan masuk ke ruang keberangkatan. 

Tidak lama kemudian, bakit itu kembali mendatangi kedua petugas bandara udara dan memarahinya lagi, “Eh, saya kasih tahu kamu dua. Papua mau merdeka jadi kamu dua pulang sekarang, dari pada kamu dua mati nanti. Kamu orang Indonesia datang ke sini bikin kacau semua. Dasar penjajah kamu!”

Ada tiga hal menarik dari kejadian ini. Pertama, bakit ini nampaknya sangat murkah dengan perilaku kedua orang non-asli Papua yang berusaha menghalang-halanginya untuk masuk ke ruang keberangkatan. Bakit merasa mempunyai hak masuk ke dalam ruang kedatangan walau sebagai pengantar, sebab bakit adalah orang asli Papua atau tuan tanah, sementara yang melarangnya adalah pendatang. Kedua, bakit itu menilai orang non-asli Papua adalah penjajah, yang datang ke Papua untuk menjajah. Semua tindakannya dianggap sebagai upaya penjajahan terhadap orang asli Papua. Ketiga, karena orang non-asli Papua yang bakit sebut sebagai orang Indonesia adalah penjajah, maka Papua akan merdeka lepas dari penjajahan Indonesia. Dan ketika itu terjadi, maka orang non-asli Papua harus pulang ke kampung halaman atau negara asalnya, karena Papua bukan kampung halaman mereka dan kemerdekaan Papua bukan untuk mereka.

Ketiga hal ini memang sulit dilepaskan dari benar orang asli Papua. Banyak orang asli Papua yang telah berkesimpulan bahwa negara Indonesia dan orang non-asli Papua adalah penjajah. Dan karena itu, maka orang asli Papua berjuang untuk merdeka lepas dari penjajahan negara Indonesia dan orang non-asli Papua.

Penulis:Dogiyai Yoka


ORANG ASLI PAPUA DITINDAS DAN DIMUSNAHKAN


HEWAN DAN TUMBUHAN DILINDUNGI DAN DIKEMBANGBIAKKAN, 
ORANG ASLI PAPUA DITINDAS DAN DIMUSNAHKAN

Majalah Selangkah.com Dimana-mana dalam NKRI, banyak peraturan perundang-undangan telah dibentuk untuk melindungi dan mengembangbiakkan sejumlah hewan dan tumbuhan yang hampir musnah. Sanksi yang dikenakan kepada pelanggar pun mulai dari yang ringan hingga berat. Tentu saja, hal ini merupakan sebuah pemikiran dan tindakan yang bijaksana. Luar biasa, hewan dan tumbuhan tertentu dilindungi dari kemusnahan.
Selain hewan dan tumbuhan yang hampir musnah, dari sekian banyak kelompok manusia di Indonesia, salah satu kelompok manusia yang sedang mengalami kemusnahan adalah orang asli Papua. Orang asli Papua yang beretnis Melanesia-Negroid dengan ratusan sukunya merupakan kelompok minoritas dalam kelompok mayoritas orang Indonesia yang beretnis Melayu dan Melanesia (Timor dan Maluku). Sejumlah sumber resmi sering menyebutkan bahwa jumlah orang asli Papua di Papua sekitar 2.000.000 jiwa, walaupun data ini sulit dipercaya akibat kegemaran manipulasi dan politisasi data penduduk orang asli Papua selama ini oleh penguasa (kemungkinan jumlah akurat orang asli Papua di Papua adalah dibawah 1.700.000 jiwa).
Jika jumlah 2.000.000 jiwa orang asli Papua ini menjadi patokannya, maka jumlah ini jauh lebih kecil dibanding dengan jumlah orang asli Papua di Papua Nugini yang telah mencapai 8.000.000 jiwa. Padahal sebelum berintegrasinya Papua ke dalan NKRI, jumlah orang asli Papua di Papua sebanyak 600.000 jiwa, sedangkan orang asli Papua di Papua Nugini pada saat yang sama hanya berjumlah 400.000 jiwa. Artinya, dalam kurun waktu lebih kurang 50 tahun, orang asli Papua di Papua Nugini telah berkembang pesat melampaui jumlah orang asli Papua di Papua yang awalnya jumlahnya lebih banyak. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa orang asli Papua di Papua sedang musnah.
Orang asli Papua di Papua Nugini berkembang pesat karena mereka telah merdeka sebagai negara merdeka, tidak ditindas dan dibantai oleh bangsa lain, tidak ada migrasi besar-besaran yang menduduki dan menguasai tanah airnya. Sedangkan orang asli Papua di Papua mengalami kemusnahan yang cepat karena dikuasai oleh negara lain, penduduknya ditindas dan dibantai oleh bangsa lain, migran non-asli Papua menduduki Papua secara besar-besaran.
Jika hewan dan tumbuhan yang hampir musnah di NKRI dilindungi, mengapa manusia orang asli Papua yang sedang musnah tidak dilindungi dan dikembangbiakkan? Mengapa nilai hewan dan tumbuhan dijunjung tinggi sedangkan nilai manusia direndahkan? Mengapa tidak ada peraturan perundang-undangan yang dibentuk khusus untuk melindungi dan mengembangbiakkan orang asli Papua? Mengapa tidak ada sanksi yang tegas bagi pelaku pemusnahan orang asli Papua? Indonesia ini memang negara yang aneh. Orang asli Papua direndahkan lebih rendah dari hewan dan tumbuhan, bahkan dianggap tidak bernilai. Karena itulah orang asli Papua terus ditindas dan dimusnahkan, tanah airnya diduduki dan dikuasai, dan kekeyaan alamnya dirampok, yang kesemuanya itu dilakukan secara terencana, sistematis, dan masif. Aksi inilah yang disebut sebagai “genosida”. Dan genosida terhadap orang asli Papua oleh NKRI sudah tidak terbantahkan lagi!

Penulis:Papua Yoka


Adanya isu pemekaran Mapia

Majalah Selangkah.com Adanya isu
pemekaran Mapia,Mapia raya,mapia weiland adalah Sifat kehausan yang dibuat oleh
sekelompok anak anak SD yang tidak naik Kelas di SD Negeri Dogiyai yang
berkelas 6 . Hal diatas tercermin dari tindak yang pernah terjadi saat transisi
nabire red dogiyai alias pemekaran saat itu para tua,tua sedang pusing dinabire
karena nakal cuek sehingga dibiarin oleh teman kelas yang lainnya maka saat itu
menjadi jaminan naik kelas didogiyai dengan catatan harapan akan pentingnya masyarakat dan daerah dengan visi dou ena/dipandang bagus


bagai buah kedongdong/diluar dianggap buah dalam duri sehingga sejauh ini kita
simak bahwa isu Mapia merupakan Ibarat SD yang berkelas 6 yang mau dibangun
diatas setara SD dengan Tujuan mendatangi tenaga pengajar kontrak dengan jumlah
siswa yang sekolah induknya masih minim dan angkatan pertama masih belum ujian
karena gedungnya pun dibuat dari juby atap alang alang dan berlantai tanah
sehingga “Salah satu kepuasan yang paling besar dalam kehidupan adalah
mengatasi masalah dengan cara efisien dan lebih baik maka siapa yang menjadi
Timsus Pemekaran Mapia Amati Dogiyai Lebih Baik dahulu.



Penulis:Mapiha
Yoka

Mahasiswa Mapia Papua Tolak Isu Mapia Raya Mekar | |- KPMY-| » Malang » Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Yahukimo

Mahasiswa Mapia Papua Tolak Isu Mapia Raya Mekar | |- KPMY-| » Malang » Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Yahukimo














Adanya isu
pemekaran Mapia,Mapia raya,mapia weiland adalah Sifat kehausan yang dibuat oleh
sekelompok anak anak SD yang tidak naik Kelas di SD Negeri Dogiyai yang
berkelas 6 . Hal diatas tercermin dari tindak yang pernah terjadi saat transisi
nabire red dogiyai alias pemekaran saat itu para tua,tua sedang pusing dinabire
karena nakal cuek sehingga dibiarin oleh teman kelas yang lainnya maka saat itu
menjadi jaminan naik kelas didogiyai dengan catatan harapan akan pentingnya masyarakat dan daerah dengan visi dou ena/dipandang bagus
bagai buah kedongdong/diluar dianggap buah dalam duri sehingga sejauh ini kita
simak bahwa isu Mapia merupakan Ibarat SD yang berkelas 6 yang mau dibangun
diatas setara SD dengan Tujuan mendatangi tenaga pengajar kontrak dengan jumlah
siswa yang sekolah induknya masih minim dan angkatan pertama masih belum ujian
karena gedungnya pun dibuat dari juby atap alang alang dan berlantai tanah
sehingga “Salah satu kepuasan yang paling besar dalam kehidupan adalah
mengatasi masalah dengan cara efisien dan lebih baik maka siapa yang menjadi
Timsus Pemekaran Mapia Amati Dogiyai Lebih Baik dahulu.


Penulis:Mapiha
Yoka

AKU BUTU PENGALAMAN LAGI?


Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan pertambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non formal atau bisa diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi.
Suatu pembelajaran juga mencakup perubahaan yang relatif tepat dari perilaku yang diakibatkan pengalaman, pemahaman dan praktek. Hal ini dikemukakan oleh Yohanes Piyaiyepai Magai ketika Panggilan Dasar surat dari Kopertis Wilayah XIV Papua dan Papua Barat Nomor 132/K14/KM/2014 tanggal 3 juni 2014 perihal pemberitahuan Pelaksanaan Pemilihan mahasiswa berprestasi 2014 yang dilaksanakan setiap perguruan Tinggi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat berlangsung tanggal 20 – 22 di Hotel Matos jalan raya Abepura.”ujarannya lelaki yang suka makan wodadebeta itu.”

Demikian kegiatan yang dimaksud akan dilaksanakan oleh kopertis Wilayah XIV nanti dari peserta mahasiswa prestasi dari perguruan Tinggi masing –masing itu inisiatif saya bahwa kita sama sama putra -putri terbaik masing –masing kampus , sehingga diantara kita siapa yang terpilih belarti dialah yang mempunyai nasip talenta diberikan kepada lewat kopertis.
“Katanya piyaiyepai’’

Penulis:Mapiha Yoka